Ranting, Harapan Dan Do'a Tulusnya

Ku rasa aku telah menemukan ranting pohon terbaik yang kucari selama ini Aisyah, (ujarnya sambil menatap matahari yang hendak tenggelam). 

Iyakah? Lalu?  Kenapa?, (tanyaku) 

Aku sangat bahagia, aku telah menemukannya, tapi aku belum bisa meraihnya karena untuk saat ini, aku sedang menyimpannya ditengah hutan rimba, aku hanya mampu menyelimuti dengan hangatnya do'a, (Ujarnya kembali dengan menunjukkan salah satu hutan yang ada diseberang sungai). 

Kau bilang, kau menyimpannya di tengah hutan yang rimba? 
Lalu, tidakkah kau merasa khawatir jika ia akan hilang?, (tanyaku kembali sambil menoleh kearahnya) 

Rasa khawatir pasti ada Aisyah! 
Tapi yakinku hanya satu, jika Allah mengizinkan aku untuk tetap bisa menyimpan dan mengambilnya diwaktu yang telah tertulis nanti, ia tidak mungkin akan hilang. Tak jarang ku mendengar bahwa ranting itu akan terbawa oleh orang yang telah menemukan keindahannya, tetapi mungkin karena Allah tau bahwa ada hamba-Nya yang menginginkan ranting itu dan senantiasa meminta untuk dijagakan oleh-Nya, hingga saat ini ia masih tetap bertahan ditempat yang semula ku simpan,(Ucapnya sambil mengambil dedaunan yang berjatuhan disekitarnya). 

Fakhri? Tidakkah kau berpikir begitu banyak ranting yang lebih baik dari ranting yang kau jaga sekarang? Lalu mengapa kau tak berniat untuk menggantikannya dengan yang lebih baik?, (tanyaku) 

Sama sekali tak pernah terbesit dalam benakku tentang itu, karena rasa nyaman yang membuatku tetap memilihnya Aisyah, (ujarnya sambil menoleh kearahku) 

Apapun niat dan tujuanmu, selagi itu baik dan tidak keluar dari garis yang telah ditentukan-Nya, posisiku adalah sebagai orang yang selalu mendukungmu fakhri, (ucapku sambil menunduk) 

Ku tau Aisyah, kau memang selalu mendukungku, tapi tunggulah! Tunggu waktu itu datang! Aku pasti akan menjemputnya. 

Comments

Popular posts from this blog

Aku Memang Tak Bisa Merubah Kenyataan