Pemuda zaman sekarang
SEPUCUK HARAPAN YANG TELAH HILANG
Berbicara tentang generasi penerus bangsa, pastinya yang pertama kali menjadi sorotan adalah para pemuda. Jika pemuda-pemuda terdahulu dibandingkan dengan para pemuda sekarang ini terkait semangat mereka dalam membangun bangsa, mungkin bisa di ibaratkan antara langit dengan bumi yang memang sangat jauh berbeda. Ya, aku katakan begitu karena, tak jarang ku di ceritakan bagaimana kisah perjalanan orang-orang terdahulu di era 80-an. Memang, pada waktu itu mereka memiliki keterbatasan dalam segi ilmu pengetahuan yang lebih luas, alasannya karena memang banyak di antara mereka yang tidak melanjutkan pendidikan bahkan banyak juga yang tidak bersekolah sama sekali.
Tetapi, satu-satunya senjata yang dimiliki untuk bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan adalah rasa semangat yang tak pernah pudar. Dan hal itu yang jarang sekali aku temukan dalam jiwa pemuda-pemuda sekarang ini, banyak yang berpendapat bahwa, yang membuat baik dan buruknya perubahan sikap yang terjadi pada para pemuda itu karena semakin canggihnya teknologi. Tetapi pendapatku ternyata jauh berbeda dengan pendapat orang-orang diluar sana, aku malah berpendapat bagaimana mungkin yang disalahkan adalah teknologi? Padahala pada dasarnya teknologi atau social media misalnya, itu posisinya hanya di mainkan, sebenarnya yang membawa sebuah perubahan entah itu baik atau buruknya, itu semua tergantung diri kita sendiri, jika kita menginginkan perubahan yang baik, otomatis kita pergunakan social media tersebut dengan baik pula, dan begtupun sebaliknya.
Tepat pada jam 07:00, aku berangkat ke sekolah dengan teman-teman asramaku, karena kebetulan aku mondok dan letak pondok ku tidak terlalu jauh dari sekolah, setibanya di sekolah aku mendengar bahwa ada suara orang yang memanggil-manggil namaku.
“Nir!, Nir!”. Dengan spontan ku menoleh kebelakang, tapi ternyata tidak ada satupun orang lalu ku melanjutkan saja langkahku untuk menuju ruangan kelas.
“Hey!”. Sambil menepuk pundakku, datang dari sebelah kanan satu arah dengan ruangan kelas XII (Duabelas).
Ternyata yang memanggilku dari tadi adalah Sakira, teman sekelasku.
“Eh, kamu Sakira, bikin kaget aja, ada apa?”. Tanyaku.
“Tugas PPKN untuk persentasi hari ini sudah siap atau belum?”. Tanyanya sambil merangkul pundakku.
“Oh, tugas PPKN? Udah sih, kebetulan tadi malam aku kerjakan di pondok, tapi kalau dalam bentuk lembaran sih belum, soalnya nih masih di flashdisk”. Sambil ku tunjukkan flashdisk yang ada di genggaman tanganku.
“Wah, untung dong. Mmm, aku sih belum, soalnya anggotaku banyak yang ngilang, kami jarang komunikasi, yah kamu tau lah yang empat itu anaknya kayak gimana”. Ujarnya.
Karena memang penghuni di ruangan kelasku sangat lengkap, yang rajin ada, yang lemot, cantik, lucu juga banyak, apalagi yang nakalnya blak-blakan juga pasti ada. Karena memang menurutku, hal yang seperti itu sudah menjadi tradisi di sekolah manapun, di kelasku ada juga yang terkenal nakalnya blak-blakan mereka bikin geng yang namanya BFF “Best friend Forever”.Yah, kurang lebih begitu lah maksudnya. Tapi karena memang mereka cuman ber empat, aku sih biasanya memanggilnya “Geng 4”.
“Oh iya, anggotamu geng 4 itu ya? Wah, keren dong?”. Ujarku sambil ketawa-ketawa kecil.
“Ah, kamu gitu ya?”. Sambil menunjukkan wajah kerutnya.
“Haha, canda kali, nggak usah serius gitu ah!”. Sambil merangkul pundaknya dan tersenyum.
“Kalau boleh, aku gabung ya di kelompokmu?”. Sambil menghela nafas panjang.
“Mmm, gabung di kelompokku?, boleh-boleh aja sih”. Sambil tersenyum menatapnya.
Tetapi ku lihat wajahnya semakin asaja terlihat kusut dan gelisah.
“Sudahlah, nggak usah di fikirkan, nih ambil flashdisk dan laptopnya, pelajari dulu materi-materi yang ada biar nanti ada yang menjadi bahan kita untuk persentasi, oh iya, jangan lupa nanti sertakan nama mu di covernya ya?”. Ujarku
“Yeeey!. Makasih Nir, aduuuh jadi malu” Katanya.
“Ah, lebay!”. Sambil menepuk pundaknya.
Terik matahari semakin saja membuatku merasa sumpek, dna membuatku menjadi tak sabar untuk cepat-cepat pulang ke kos kemudian mandi. “hehe”. Bel berbunyi empat kali menandakan bahwa kita di perbolehkan untuk pulang. Tepat jam 01:30 aku dan teman-temanku balik ke kos. Karena memang aku juga mengikuti beberapa organisasi diluar sekolah salah satunya organisasi Apolo (Asosiasi Pengurus Osis/Osim Lombok Tengah). Tak lama aku di kos, satu jam sebelum sholat ashar, aku dan temanku Sri, yang memang temanku yang satu ini sudah ku anggap layaknya saudara sendiri, seringkali kami di juluki sebagai Upin dan Ipin karena mereka beranggapan bahwa kami adalah saudara kembar, kami selalu berdua, dia juga teman sekamarku di kos bahkan teman sebangku di ruangan kelas, dan itulah yang membuat kami emakin saja melengket.Waktu itu,kami langsung ke praya tepatnya di masjid agung untuk mengikuti kegiatan pertemuan anggota Apolo.
***
Nampaknya, senja pun sudah mulai menyapa kegiatan kami dan orang-orang di sekitar halaman masjid agung yang tengah enak menobrol sambil berduduk santai di atas rerumputan hijau yang semakin mewarnai indahnya halaman masjid tersebut.
“Sebelum pulang, kita beli jagung bakar dulu yan sri?”. Tanyaku sambil menaiki sepeda motor.
“oke, tapi ntar kamu yang beliin ya?”. Sambil tersenyum
“Ah kamu, sukanya gitu dah”. Menepuk pundaknya.
“Hehe iya dong”. Sambutnya
“Oke, aku beli satu buah jagung bakar, tapi nanti kita sama-sama sepotong ya? Kan biar hemat, hehe”. Kataku dengan nada mengejek.
“Baiklah”. Sambil ia tersenyum
Setelah kami membeli jagung bakar, tanpa menghabiskan banyak waktu, kami langsung bergegas untuk pulang karena terdengar lantunan ayat suci Al-Qur’an telah berbunyi, menandakan waktu maghrib akan segera tiba. Di sepanjang jalan yang kami lewati, di sepanjang itu pula aku da sri menemukan pemuda-pemuda di pinggir jalan yang masih saja asyik nongkrong dan menyaksikan temannya yang sedang balap-balap motor nggak jelas, sering juga aku di sapa oleh pemuda-pemuda tersebut dengan kalimat sapaan, “Cewek?”, kadang-kadang “Assalamu’alaikum?”, ya begitulah pemuda-pemuda yang banyak menghabiskan waktu dengan kegiatan-kegiatan yang sama sekali tidak bermakna.
Seringkali ku berfikir dalam hati, “Sebenarnya apa yang mereka bayangkan untuk masa mendatang? Akankah mereka akan terus-terusan menikmati kegiatan yang sama sekali tak ada manfaatnya itu setiap hari? Apakah mereka mengira bahwa, hidup ini hanya bisa di bawa santai saja? Tanpa adanya beribu-ribu rintangan yang harus di lewati? Padahal, zaman sekarang ini semakin saja menantang, kalau di fikir-fikir sih sebenarnya ngeri”. Seringkali beberapa pertanyaan terlintas dalam hatiku dan pada akhirnya membuatku ngomong sendiri diatas motor, bukannya gila sih “hehe”.
Aku hanya memikirkan orang tua mereka yang menumpahkan begitu banyak harapan kepada anaknya, tapi mereka tak tau bagaimana pergaulan anak-anak mereka yang sebenarnya diluar sana, sungguh memperihatinkan. Setibanya kami di pondok, kami langsung sholat maghrib berjama’ah bersama ustadz dan teman-teman kami yang lainnya. Kegiatan pondokpun berjalan seperti biasanya. Setelah sholat isya’ berjama’ah dan kegiatan pondok selesai, kami pun kembali ke kamar masing-masing.
“Sri, pernah kebayang nggak sih gimana masa depan kita di masa mendatang?”. Tanyaku sambil menampakkan raut wajah sedikit heran.
“Iya juga sih, aku juga sering berfikir seperti itu, kayak gimana masa depan kita kelak?”. Melontarkan pertanyaan kembali kepadaku
“Yah, aku juga mikirnya gini, kita yang sekolah aja udah bingung maslah masa depan, terus gimana ceritanya orang-orang diluar sana yang memang tidak melanjutkan sekolah, bahkan sama sekali tidak bersekolah? Ya, ambil contoh kecil lah, pemudapeuda yang seringkali kita temukan di pinggir jalan nongrong nggak jelas” Ujarku panjang lebar sambil membereskan cucianku yang masih menumpuk di atas tempat tidurku.
“Nah itu, yang paling memperihatinkan bagaimana para orang tua mereka tau kegiatan anak-anaknya yang memang taka da manfaatnya di luar sana? Pasti orang tua mereka akan sangat kecewa”. Jelasnya sambil membereskan meja belajarnya.
“Tapi ya, harapanku setidaknya kita bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan bisa melewati rintangan yang pastinya akan semakin banyak kita temukan”. Ujarku
“Ya, begitupun harapanku”. Lanjutnya.
Ketika pagi tengah menyapa, kegiatan untuk bersekolah pun berjalan sebagaimana biasanya. Tidak jauh dari sekolah, aku mendengar suara teriakan layaknya orang sedang bertengkar.
“Maaf bu, Maaf, aku janji nggak akan menglanginya lagi”
“Ibu kecewa! Kurang apa yang kami lakukan untukmu ha?!” dengan suara keras,
Dan ternyata suara itu terdengar dari rumahnya Silis, teman sekelasku. Aku dengar dari teman-teman yang tengah berbincang-bincang tentang suara kencang yang terdengar tadi, dan ternyata Silis di marahi orang tuanya karena kemarin sore ia keluyuran nggak jelas dengan geng nya, sampai-sampai balik kerumahnya ketika waktu sholat maghrib telah berlalu.
Ya begitulah kehidupan, bahwa tak mungkin ada orang tua yang tidak ingin melihat anaknya untuk mendapatkan sebuah kesuksesan, karena pada dasarnya, harapan para orang tua pasti akan mereka tumpahkan kepada anak-anaknya, dan jangan sampai kepercayaan dari orang tua yang telah kita miliki, malah kita sepelekan dan menghancurkan kepercayaan tersebut begitu saja.
Pemuda di masa sekarang sangatlah menjadi harapan sebagai generasi penerus bangsa, Jangan sampai harapan orang tua sendiri kita hancurkan begitu saja, bagaimana tidak? Persaingan dunia yang semakin saja ketat dan meningkat, membuat kita seharusnya meningkatkan pula rasa semangat dalam membentuk karakter pemuda yang lebih menerapkan jiwa integritas dan bertanggung jawab.
***
Comments
Post a Comment