NTB gemilang untuk generasi milenial Nusa Tenggara Barat
Masa kepemimpinan TGH. Zainul Majdi atau yang kerap disebut-sebut TGB akan segera berakhir, beliau yang terkenal akan jiwa kepemimpinan yang begitu melekat dan erat. Hal itulah yang membuat masyarakat sangat mengenal dan mempercayai TGB sebagai seorang pemimpin di NTB khususnya, terbukti dengan terpilihnya beliau sebagai gubernur provinsi Nusa Tenggara Barat dalam dua periode. Tidak ada istilahnya masyarakat yang tak ingin melihat daerahnya terus maju dan terkenal dengan pemimpinnya yang memiliki integritas tinggi dan menggunakan aspek-aspek religious.
Namun sekarang adalah saatnya bagi generasi-generasi penerus bangsa berperan untuk melanjutkan kepemimpinan tersebut, Karena daerah yang mampu menghasilkan integritas yang bagus, pasti yang dilihat adalah “siapa pemimpinnya”, dengan kata lain, seorang pemimpin yang berhasil pasti mampu mewarisi jiwa kepemimpinan pada generasi setelahnya.
Menjadi seorang pemimpin bukanlah suatu hal yang bisa dianggap mudah, karena bagaimana mungkin suatu daerah yang dipimpin ternyata dianggap hal tersebut sebagai suatu hal yang kecil? Sedangkan salah satu hal yang harus ada pada seorang pemimpin itu adalah sebuah tekad yang besar dan kuat.
Oleh karena itu, sangatlah penting bagi generasi-generasi penerus bangsa untuk mampu menilai bagaimana makna dari sebuah kegemilangan yang sebenarnya dari suatu daerah khususnya di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sudah jarang lagi terdengar NTB ini dijuluk-juluki sebagai wilayah “Nasib Tak Baik”, faktor yang membuat julukan itu menjadi seringkali disebut-sebut karena memang generasi di NTB sendiri tidak begitu memahami bagaimana makna dari NTB gemilang itu sendiri.
Karena pemimpin berarti seorang khalifah yang memang harus memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat dan benar-benar berani menggenggam pertanggung jawaban yang besar untuk rakyat di wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat. Yang pantas dikatakan sebagai pemimpin yang ideal untuk NTB adalah, dia yang memiliki kemampuan (potensi) untuk menghimbau para masyarakat meningkatkan rasa partisipasi dalam bersolidaritas guna mewujudkan kesejahteraan rakyat di Nusa Tenggara Barat.
Bahkan jika dikaitkan dalam pandangan agama Islam, tanggung jawab seorang pemimpin tidak hanya pada anggota atau rakyatnya, tetapi juga akan ada pertanggung jawaban di hadapan Allah Swt kelak. Untuk itu masyarakat di wilayah provinsi Nusa Tenggara Barat sangat membutuhkan seseorang yang benar-benar bisa berperan sebagai panutan orang-orang yang dipimpin (rakyatnya) dan mampu membawa nama baik NTB tidak hanya di Indonesia tetapi juga di kalangan penjuru-penjuru Negara lainnya.
Pada dasarnya, tidak mungkin ada masyarakat yang ingin tetap pada keadaannya yang biasa-biasa saja, pastinya mereka menginginkan perubahan bahkan peningkatan kualitas daerahnya. Dan lebih jelasnya lagi seorang pemimpin yang benar-benar memiliki jiwa integritas nan berdedikasi itulah yang mereka harapkan untuk memimpin dan membawa sebuah perubahan di wilayah Nusa Tenggara Barat khususnya. Pemimpin yang tegas, kemudian rela mengorbankan fikiran dan waktunya demi mewujudkan keberhasilan dan daerahnya. Seperti itulah pemimpin yang sesungguhnya.
Saat ini, kepemimpinan lebih didominasi oleh laki-laki, sementara keterwakilan perempuan dalam kontes politik sangat jarang terjadi. Tetapi dalam pesta demokrasi di NTB tahun 2018 ini, di antara pasangan calon gubernur terdapat perwakilan yang memang menjadi satu-satunya paslon wanita di antara keempat paslon gubernur 2018. Ini adalah lompatan prestasi politik yang sangat baik bagi sejarah perpolitikan di NTB. Karena perempuan dengan kepekaannya terhadap suatu problematika, juga memiliki kapasitas dalam kepemimpinan, tidak kalah dengan laki-laki.
Mari menilik sejarah Islam dari segi politik, khususnya mengenai kepemimpinan perempuan. Sebagaimana Annisa menjelaskan, bahwa telah banyak sosok wanita-wanita hebat yang menjadi pemimpin, baik itu sebagai presiden, direktur perusahaan, pemimpin organisasi atau komunitas dan sebagai pemimpin lainnya (Annisa, 2015), karena pada dasarnya kuadrat menjadi seorang perempuan bukanlah menjadi hambatan untuk memulai mencoba mencari hal-hal yang baru.
Selanjutnya, Annisa menjelaskan bahwa, peran wanita dalam kehidupan bermasyarakat dalam pembangunan bukan hanya sebagai proses pembangunan, tapi juga sebagai fondasi yang berstruktur kuat. Perjuangan akan figur R.A. kartini dapat dirasakan dapat dirasakan dengan adanya pergerakan emansipasi wanita. Keberadaan peran wanita sebagai pemimpin kini mulai dihargai dan disertakan. Sejalan dengan gerakan emansipasi dan gerakan kesetaraan gender yang intinya berusaha menuntut adanya persamaan.
Dalam sejarah islam, banyak para perempuan Islam yang tampil sebagai pemimpin. ‘Aisyah ra., istri Nabi Muhammad Saw, diakui sebagai seorang panglima perang unta. Al-Syifa, seorang perempuan yang pandai menulis, ditugaskan oleh khalifah ‘Umar ibn khattab sebagai petugas yang menangani pasar kota Madinah. Al-Qur’an juga menyebutkan tentang seorang ratu di zaman Nabi Sulaiman As,. Yaitu Ratu Bilqis yang memimpin rakyatnya dengan baik, penuh hikmah, dan kedilan.
Untuk itu sangat perlu bagi para masyarakat meningkatkan pola pikir dalam melihat dan jeli dalam memilih siapakah dan seperti apakah pemimpin yang pantas untuk memimpin NTB ini ke depannya, serta memahami makna sebuah kepemimpinan untuk NTB Gemilang di masa mendatang.
Referensi
Annisa, Fitriani. Gaya Kepemimpinan. Jurnal TAPls Vol. 11 No.2 Juli-Desember 2015.
Universitas Islam Negeri (UIN): KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF HADIST/Karsa, Vol.22 No.1, 2015.
Comments
Post a Comment